'MENJADI ORANG BIASA'
d.u.k.E~m.E.n.d.E.n.g.A.r
From: "duke"
Date: Tue Oct 15, 2002 7:45 am
Subject: [radioliner]
when I was just a little girl
I asked my mother, what will I be?
will I be pretty, will I be rich
hear what she said to me
que sera, sera whatever will be, will be
the future's not ours to see
que sera, sera ...
Pernah dengar lagu Que Sera Sera, gacoan di seputar tahun 65
lewat suaranya Doris Day? Liriknya sederhana dibalut musik ringan,
namun sarat filosofis. Hingga diadaptasi pada lagunya Titik Puspa,
kurang lebih berbunyi: ''Apa yang terjadi, terjadilah''. Diteruskan
lirik pesan religius, 'yang dia tahu, Tuhan menyayang umatNya!'
Mungkin keduanya sama hendak mengatakan, jalankan dan nikmati
saja hidup ini. Segalanya terus mengalir bak air sungai dari hulu ke
hilir. Bak mentari niscaya menghidupi bumi dan memulai peredaran
dari ufuk timur. Tentu bukanlah pula hal itu biasa disebut nasib.
Jika matahari begitu garang menyengat di siang hari sementara
tetangga kita nikmat saja melaju di dalam sedan ber-AC, itu lain
persoalan. Kenikmatan hidup memang berbeda di tiap orang.
Menjadi orang biasa. Yang percaya bahwa setiap detak kehidupan
amat berharga. Adalah kita dalam menjalankan hidup keseharian lalu
berusaha menikmati rutinitas tersebut. Di pagi hari berangkat kerja
-sama dengan yg lain- lantas sore sama-sama pula memenuhi jalan
A. Yani pulang menuju ke rumah. Awal bulan terima gaji, lalu sibuk
menghitung keperluan rutin rumah tangga. Misalnya anggaran sewa
kontrakan, uang sekolah anak di minggu pertama. Bayar rekening
listrik sebelum tanggal 15. Serta ritual lain akhir bulan, mengisi
formulir sumbangan RT dan jatah amplop undangan pernikahan.
Orang biasa adalah kita yang merdeka, mendadak bertamu pada
sahabat walau di saat istirahatnya. Kemudian bercelana pendek ke
warung depan membeli rokok, basa-basi kecil bila bertemu pak RT.
Tak lupa saling janjian bertemu lagi minggu paginya di lapangan
badminton. Begitu rutin dan wajar namun merdeka persis kentut.
Orang biasa adalah yang tenang hidupnya, selama tetap sehat dan
cukup rezeki. Tidak melanggar peraturan formal maupun hukum adat,
serta tak terlibat hutang. Tidak juga merasa perlu dihargai sehingga
masuk koran. Orang biasa adalah matahari yg selalu muncul setelah
malam usai. Memberi terang dan hangat sekaligus rutinitas, namun
tidak pernah berharap dikenang juga tak ada ucapan terima kasih.
Lalu orang tidak biasa alias luar biasa, adalah ketika rutinitasnya
mulai berubah. Kebebasan terancam tak lagi merasa aman bahkan
kebahagiannya terasa semu. Entah karena jabatan atau promosi.
Bisa pula oleh kekayaan, plus kemashurannya. Pagar rumah perlu
tinggi serta gembok besi mengunci gerbang. Tidur tak lagi nyenyak
lantaran setiap ''rakyat'' yang lewat sembari mengagumi istananya
dikira mata-mata perampok. Menyetir mobil selalu curigaan, takut
diserempet atau dilempari bom. Tentu kotak obat di rumah mereka
perlu dilengkapi valium, selain juga viagra dan aprodisak lain.
Mau jadi petinggi? Lebih heboh lagi. Aset kebebasan sebagai orang
biasa tentu harus digadaikan pada jabatan. Hidup dijadwal resmi oleh
protokoler. Diiringi ajudan yang siap menegur jika tabiat asli muncul,
khawatir melanggar wibawa jabatan. Berarti lupakanlah niat lamanya
jajan mi ayam di ujung gang. Para sahabat lamapun berubah sungkan.
Bahkan hoby badminton dianggap tak pernah ada. Sebab sering kalah
lawan pak RT, dan itu menganggu kredibilitas sebagai `bukan orang
biasa' lagi. Membaca koran hanya untuk melihat berita dirinya saat
menghadiri jadwal penting bersama tokoh penting anu seterusnya.
So, apa daya tarik menjadi orang tak biasa? Karena begitu banyak
yang berlomba meraih status tersebut. Malah kerasan dan ngotot
bertahan pada kedudukannya meskipun terancam demam ekslusif,
post power syndrome. Dan semakin jauh terlempar dari dunia nyata.
Orang demikian lupa bahwa ia bisa menyetir sendiri. Toko gunanya
untuk dikunjungi, bukan ditelepon. Nonton sepakbola kudu antri beli
karcis. Mi ayam langganan masih nongkrong menunggu di ujung gang
dekat gedung badminton. Mendaftarkan anak kuliah kudu isi formulir
trus ikut test, bukan malah terbitkan nota. Karena dunianya telah
rapat namun begitu semu, sikap dan tindakannya juga artifisial.
Dunia orang biasa adalah dunia mayoritas di sepanjang sejarah.
Itulah fakta, bahwa kehidupan yang sebenarnya diisi orang-orang
tak dikenal. Dengan wajah, sikap dan mimpi yang sama. Taat pada
peraturan, hidup adalah cari aman saja. Bahwa Tuhan menyayangi
umatNya, termasuk pemain badminton yang kalah namun tak perlu
masuk koran. Orang biasa bakalan tenang hidup, sejak lahir sampai
meninggal. Bebas merdeka namun kecil resiko cobaannya. Sebagai
dekor sejarah, bukan jadi orang jahat tapi tidak pula suci. Seorang
Elvis Presley bakalan tak lebih dari seorang kakek yang kini pensiun
dari supir truk. Jimi Hendrix menikmati usia ke separuh abad, tanpa
pusing dengan atribut dan kabel ketenaran di seputar kepalanya.
Kehidupan ini harus berjalan agar esok dapat meneruskan hidup
selanjutnya. Que sera sera, begitulah adanya. Lantas, apa
makna dan tugas hidup manusia di dunia ini sebenarnya?
* dionisius endy
(harian AP POST, 18 Juli 1999)
