*pulchrum splendor est verititas*
dUkE~mElihAt
From: "duke" <jazzdinny@hotmail.com>
Date: Tue Oct 15, 2002 10:00 am
Subject: PULCHRUM SPLENDOR EST VERITATIS
• PENGEMBARAAN JATI DIRI KEFANAAN
Gani Sudarmaji (26 thn) nan asli petualang, kini mengembara
di papan PCB radio transmiter hingga board system hardware
komputer. Dia memutuskan mati-matian berjuang di kios usaha
elektronik pojokan Nusa Indah Pontianak, lebur dengan relitas
keringat pasar. Padahal bokapnya pejabat terpandang di instansi
basah yg mudah menggunakan fasilitas silahturahmi telpon ke
relasi maupun perusahaan bonafid. Semua keluarga senantiasa
mendukung penuh, sejak Gani (2 thn) riang memperoleh sepeda
roda tiga lalu kursus Inggris privat (6 thn) lantaran hobi nonton
serial televisi Mission Impossible dan lagu The Beatles.
Petualangan subjektif berkarakter personifikasi lirik 'In My Life'.
Menjadi ketua OSIS untuk dua periode di SMA favorit yg program
suksesnya adalah membuka bengkel komputer sekolah. Menjuarai
Tenis kelompok umur 16 tahun, pengurus ORARI, kursus bahasa
Jepang dan piano, dst. serta kebiasaannya menyendiri di gunung
ketika mendapat ilham buat melukis. Sang ibunda lantas terbiasa
menseleksi ketat telepon yang masuk ke rumah terutama dari para
gadis. Sebagai sulung andalan dia punya jadwal liburan tiap enam
bulan untuk ke Jakarta atau Australia, persiapan kuliah kelak atau
Sipenmaru (1986). Kondisi sejak kecil yang kerap berselisih paham
dengan ayahnda, juga membentuk Gani mendambakan kebebasan
mandiri untuk meninggalkan rumah seusai SMA. Gani yang tumbuh
bersama aroma gunung dan semilir pantai pertiwi, memilih Bandung
sebagai pengembaraan intelektual akademis di Institut ternama di
negeri ini. Pergaulannya meluas saat kumpul dengan teman kost se
tanah air. Serta mengontrak bangunan bersama Ronny (Ambon),
Marco(Timor), Beben (Solo), Syahrul (Aceh), Riris (Palembang)
dan Angel (cewek Menado) untuk membuka bengkel elektronik.
Sempat pula jadi ketua RT, mungkin dipilih para penggemarnya
terutama mojang sekitar yang bageur, bodas dan geulis kabeh.
Yang pasti minat akan belantara komputer bagai menemukan
oase. Catode-ray Tube (monitor menyatu keyboard, mesin tik
listrik), Ultra Large Scale Integration (chips microelektronik),
hingga pengoperasianWide Area Network. Termasuk isengnya
bereksperimen virus (VitalInformation Resources Under Siege).
Sesuatu mengalir selayaknyaFool On The Hill (Paul Mc Cartney)
namun kokoh laksana edelweis di Tangkuban Perahu, hingga saat
kelulusan tiba. Sukacita rohani-kebanggaan jasmani buat orang tua
adalah kontrak tak tertulis buat Gani untuk mulai melepaskan diri
sepenuhnya serta bergantung pada rantai bintang yg telah ditenun
selama ini. Perjalanan baru dimulai! Berbekal atribut gelar dan gaji
fresh graduate 6 digit/bulan, Gani memulai petualangan eksekutif
cendekiawan sebagai profesional muda Jakarta. Irama rutin dimulai
jam 5 subuh (menghindari macet sembari memformat lap-topnya),
seminar di Convention Hall hotel bintang, lunch berbalut negosiasi di
eksekutif club, bekerja 12 jam/hari (workalcoholich) ditemani Django
Reinhard or vocallize Carmen McRae. Refreshing di 'Times Book and
Magazine' Sogo berlanjut transit di News Kafe - Kuningan saat 'traffic'
pukul 7 hingga malam. Gani terbentuk jadi petarung sejati rimba baja
metropolitan. Dua tahun sebagai Young Urban Profesional (yuppies),
incaran head hunters eksekutif sekaligus nara sumber favorit bacaan
Business & Industral Weekly, menjadikan Gani sesekali jadi gamang.
Ada kesunyian di tengah kegaduhan saat technical meeting, bahkan
Shirloan Steak di White Rabit Pondok Indah Mall semakin tak menarik
selera lunch lagi. Virus tak berampun adalah aib jenuh dan kehilangan
motivasi. Gani menggelengkan kepala sembari menggeber AC mobil,
rasa mual stadium dini yang belakangan ini membuat telapak gampang
berkeringat. Dasi Versace pemberian relasi di Beijing dilempar kesudut
jok kulit, alunan denting Rippingtons berganti desah kepiluan 'The Man
Who Sold The World' (David Bowie). Ia ciptakan kemapanan sekaligus
lobang jebakan. Semakin benteng metropolis itu kokoh menebal, makin
berjarak dengan aroma gunung dan semilir pantai yang kini memenuhi
lagi diary masa kecilnya. Apakah perkembangan harus identik dengan
perubahan? Gani si kokoh ternyata rapuh, pribadinya mendua dalam
realitas sekaligus keyakinan semu nan hakiki. Waktu yang singkat
membukakan matanya, berikut pilihan membentang di hadapan.
Petualangan apa lagi yg mesti dilakoni? Semua tetap mengalir bagai
'Strawberry Field Forever', seefesien tanda tangan assigment akuisisi.
Orgasme sesaat, begitu instant namun dahaga bathin tak juga kunjung
terpuaskan.Gani 'mampu' mendapat segalanya secara sistematis, tapi
hampa karena gagal 'menghasilkan' sesuatu. Bathinnyapun menggugat,
berlanjut logika analisis error. Grafik biorithmik labil, seketika pori-pori
kulit merinding. Ia mulai asing, sesuatu mulai datang dengan pasti.
Gani yang sibuk namun selalu presisi, ternyata amat kesepian!
• DOA YANG TAK TERJAWAB
Entah jodoh atau guratan nasib, karena istilah ini tabu dalam prinsip
manajemen khususnya vokabulari Gani. Yang jelas, selepas fitness di
Clarck & Hatch di Hilton ada perasaan kuat untuk ke gereja, duduk dua
baris dari paduan suara tepatnya di belakang gadis munggil berambut
sepundak bermata cemerlang. Gani yang terlatih ber-akselerasi setara
Pentium 338 Mhz, terpana seperti William Shockley saat merumuskan
Transfer Resistor (Nobel Iptek,th 1956) lewat kapasitas pesona k.watt.
Keaslian Alinah bagai kepasrahan bersahaja arca bunda Maria dengan
kesejukkan resistor platina murni. Gani terusik seraya berguman nama
yang baru didengar namun begitu orisinal sembari menutup memo di
Palm Book Windows NT. Alinah begitu tenang bernyanyi penuh kontrol
laksana desir angin membelai edelwais. Dia pernah merasakannya!
Hitungan minggu ke dua, Gani turut berlutut sehabis misa terakhir dan
sedikit ceroboh menoleh ke samping, terpana menatapnya lekat-lekat.
'Mengapa kau selalu memperhatikan aku?' tanya Alinah tetap bernada.
Gani tergagap bercampur harapan girang, 'Uhm .. sedang memohon ..'
Dengan naluri self defence terlatih tapi gugup mirip penjudi tertangkap
basah. Angin berdesir menggoda edelwais, gunung tersenyum melirik.
Jeda melintas dua menit, sang edelwais menatap tanpa melunturkan
kharisma. 'Ketuklah pintu maka akan dibukakan .. Tuhan tak memberi
jika kita urung meminta!' Bibir dan mata bintang, sanggup menggugah
petualang gunung manapun. Kata-kata diam tahu diri. Deru Desember
selalu membawa aroma, dedaunan jatuh diiringi dentang bel gereja,
penjual kartu Natal dikerumuni ragam harapan umat. Gani mengiringi
langkah Alinah sambil membungkus Palm Book di sweater, matanya
menuntun hati-hati menuju plaza gereja. Akan jadi pengakuan, bathin
Gani ketika Alinah mengangguk tanpa kehilangan cemerlangnya.
Gani menerawang saat pertamanya menerima komune kudus (11 thn),
pastor Hardjo (76 thn) berkotbah akan terang yang kuasa mengabulkan
permohonan katak saat terobsesi jadi lembu agar lebih nyata (eksist).
Namun apa daya, katak tetap kodok selayaknya evolusi yang pantang
mengingkari alam. 'Yang penting, jikalau Tuhan tidak selalu menjawab
doamu, bukan berarti Dia alpa. Karena satu mukjijat atas karunia Nya
adalah doa yang tak terjawab!' (Unanswered prayers). Terang itu tetap
cemerlang, tanda khusus berupa harapan untuk selalu memohon hanya
kepada kebesaranNya. Alinah tertawa perlahan tanpa memperlihatkan
giginya, seolah tahu kemelut bathin Gani. 'Jika demikian,' dia menoleh,
'Jadilah jati diri. Kepasrahan tak berarti kelemahan, namun kesejatian
sikap akan menuntun mengarungi samudra fana. Menuju ke abadi an
edelwais terindah di tebing curam pegunungan. Doa tak terjawab
merupakan anugrah, menunjukkan arah lanjut sebetulnya ..!'
Bibir indah dengan mata cemerlang itu selalu mempesona, namun
Gani terapung dalam déjà vu. Sesungguhnya petualangan sejati belum
lagi dimulai, proses kelahiran barupun nyata. Segala doanya tak pernah
tersusun, bentuknya keliwat samar. Gani menggeleng sekilas, ternyata
Alinah telah berlalu meninggalkan dedaunan. Minggu berikut hanyalah
harapan, Alinah tak nampak dimana-mana laksana roh. Kini saatnya
doa disusun, Gani berlutut diiringi dentang gereja malam kelahiranNya.
Memohon arah hanya pada Pencipta, dalam pengembaraan identitas
seraya tak putus merajut doa. Berserah total menterjemahkan jawaban
di setiap karunia, tidak lagi mengharapkan jawaban. Kini, di sebuah
kios elektronika kecil. Lebur dengan realitas keringat pasar.
(selamat natal'93, dionisius)
• pulchrum splendor est verititas :
- keindahan adalah pancaran kebenaran (Thomas Aquinas) -
